ABNORMAL

#1

Giliranku membentur hancur…

Terang hari-hari ini aku kembali jarang tidur

Ku sampai ambil bagian ini, aku seperti belum mengerti

Hendak menyudahi, pelan-pelan aku kembali

“Mengikuti detik yang sia-sia”

#2

Aku mengalah saja…

Diam-diam saja

Melahap nikmatnya suara

Dan menikmati lagu-lagunya

#3

Sudah sampai seperti sekarang

aku peroleh senang yang sesaat hilang

dan aku sampai buang air sendiri

di tanah asing yang tidak ada orang.

#4

Telah aku terima kabar buruknya

Tapi terlanjur sudah ku menduga

Aku menolak untuk lupa

Dan memilih bersama detik yang sia-sia.

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

MAAFKAN AKU

Terang cahaya disana…sosok gelap tersamarkan, tapi siapa? Tanpa wujud juga raga! Mencari tahu bentuk rupa : hanya hampa sekedar luas.

Aku lupa mungkin gila! tidak sadar salah terka, akal tersumbat di jalur simpang, ternyata cinta mengubah lambang.

Tanpa sadarku terperangkap, menduakan cintaku dengan sengaja, ternyata racun telah ku telan sedemikian banyak, aku habiskan cintaku dengan manusia’ tatap pandang berwaktu waktu menjadikan hubungan kita jadi merenggang.

Karena manusia aku lupa menemuimu, disaat luka bathin merana, baru aku mengingatmu kembali, hanya saja aku tidak punya malu mengingatmu disaat saat seperti ini.

: Tuhan, Maafkan Aku…

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

SKENARIO

Sehari sebelum acara dimulai, tepat proses syuting segera akan,
laki laki dengan pembawaan kuat,
percaya akan dapatkan tempat, meski satu sisi ada pihak tak sependapat.

Iya tunai cita nan harap, selama beberapa tahun penantiannya, si gadis berhasil takluk, pada peluk.


Laki laki itu berkata : aku berhasil meraihmu, dan sejatinya aku adalah aktor dibalik layar itu! dan kau harus akui aktingku di beberapa spisode lalu,
Sekarang ! aku layak beradu akting denganmu di episode episode sinetronku selanjutnya.


Gadisnya menjawab : aku akan usahakan rampung, segala peran adegan ini, sampai episode terakhir nanti.

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

PENGAKUAN

Diikat, disandera, hari kutempuh binasa segala, Lalu timbul lelah, semangatpun patah.


Dengan sikap kaku, kubaca buku, mendalami ilmu agamaku
Lagi asyik malah terusik syetan bertempik aku tercekik.
Akhirnya jeda, Aku menunda , asyik bercanda, jadi pelupa,


Diluar kendali yang rata, syetan ada! mengajakku berdansa.
Deviasi hamba mengembang, jadi gelap pandang, dan itu terjadi berulang ulang.

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

SURATKU PAGI INI

Selamat pagi, tidakkah silau? Mentari telah menemui kita kembali, mari segera kita sambut segala agenda baru hari ini.


Teman,
sudahlah…, jangan murung ataupun bingung, kita tak harus manjakan punggung, ini bagian memang penuh akan tikung dan banyak hal belum rampung, kita mesti lekas segera langsung, bukan malah jadi patung.


Teman,
Jangan seperti mereka!
dapat disaksikan bersama sekitar kita.
Pemalas Pemalas ! Menunggu, menunggu, tak kunjung jemu, waktu ke waktu, hal tak tentu, hasil tak ketemu, padahal perlu, malah begitu!


Teman,
Tidak heran..! Negeri kita subur tapi pelit, selalu berbelit belit, hutang tambah melilit.

Mana akan bisa kaya?.. malah akan terus sengsara.

“Kita dalam kesaksian yang sama”

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

AKU MUAK DAN JEMU

Aku muak dan jemu,
bukan masalah uang saku,
pesta jelang tahun baru,
gara gara itu!
_
“Saudara”

Aku tidak bisa menerima sampah sampah kalian!
di taman, lapangan, pinggir jalan, gunung dan laut.

_
Diskusi dan sharing , laki laki dengan bahak tawa nyaring,
angkat gelas menahan pusing,
tepat diposisi samping,
perempuan perempuan sinting , langsing dan ramping.
_
Sial! Aku bisu,
menyaksikan tingkah lakumu.

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar

LIA, LIA, LIA…

Tanya aku kasihku,
Jangan menghindar begitu
Ucapkan sesuatu,
Biar itu berat untukmu.. untukmu….
Beri sikap jelas, tegas….
Aku ingin kau berbalas,
Jangan hanya lemas… lemas…
Tidak kah ini aneh?
Rangkulan ,peluk menjarak ….
Kita dalam rasa tidak tahu menahu

Dipublikasi di PUISI | Meninggalkan komentar